My Dream and Yours
Every person has a dream. Hal pasti yang dimiliki semua insan di dunia ialah mimpi. Setidak-tidaknya ia memiki satu mimpi. Apakah berbentuk cita-cita, seperti menjadi pilot, pramugari, dokter, guru, penulis dan lainnya. Atau bahkan bermimpi agar dapat bertemu idolanya.
Begitupun dengan saya yang memiliki banyak mimpi. Salah satunya ingin bisa berkuliah di salah satu kampus di Ibu Kota mengambil jurusan Psikologi. Namun, rencana dan mimpi manusia hanya sebatas angan dan harapan. Karena Tuhanlah yang menentukan seluruh garis kehidupan manusia. Belum sempat mencoba berbagai rangkaian tes masuk, atas ijin yang Maha Kuasa lewat perantara kedua orang tua yang tidak berkenan anaknya melanjutkan studi di kampus tersebut.
Mereka menaruh harapan besar kepada anaknya untuk melanjutkan studi di Kota kelahiran sang ayah. Sebuah daerah di pesisir pantai, jauh dari kata kota kekinian. Namun sebagai anak yang masih berada di bawah asuh orang tua, tentu tidak dapat menolak keinginan orang tuanya. Dengan berat hati, saya mendaftarkan diri ke satu-satunya kampus di kota itu. Ya, kampus swasta, yang jauh dari kata tenar dan favorit.
Semua terasa berat di awal, cibiran teman yang tak henti menyayangkan prestasi saya di pendidikan sebelumnya yang "harusnya" bisa masuk ke salah satu universtas bergengsi. Terlebih "omongan" dari anggota keluarga sendiri yang teras begitu menyakitkan. Tak jarang menangis sendiri, serasa telah runtuh seluruh harapan. Namun, penulis mulai bangkit dan tak lagi menghiraukan segala cibiran yang ada dengan mengisi kesibukan di dunia perkuliahan,
Berbagai oganisasi intra maupun ekstra kampu diikuti. Bahkan merasa kurang, penulis mencoba mencari pekerjaan part time sebagai guru les privat. Mulailah kehidupan baru yang menyenangkan. Teman-teman baru dari berbagai organisasi, pengalaman baru yang menantang dan menyenangkan. Sungguh indah masa-masa itu.
Hingga sampai di akhir perkuliahan, tepatnya di semester 7, berbagai keajaiban datang. Kemudahan datang silih berganti, semua rangakain kegiatan mahasiswa akhir terlewati dengan begitu mudah. Bahkan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Hingga saat pelantikan sarjana atau kita kenal dengan wisuda, saya menjadi wisudawan terbaik dengan waktu studi selama 3.5 tahun.
Dari situlah saya menyadari betapa hebat doa dan keridhoan orang tua. Jalan yang ditempu begitu mulus dan mudah. Memang tidak selalu mudah, ada beberapa ujian yang harus dilewati dengan tabah, salah satunya ketika penulis jatuh sakit karena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit tepat dua minggu sebelum sidang akhir. Sempat putus asa karena raga ini tidak mampu diajak bangkit. Penulis serahkan semuanya kepada Tuhan. Atas izin-Nya. Allah berikan anugrah yang luar biasa, saya diberikan kesehatan dan mampu mengikuti sidang akhir dan seluruh rangkaiannya hingga dapat mengikuti wisuda di Bulan yang saya targetkan. Sungguh indah rencana Tuhan.
Comments
Post a Comment